Kamis, 19 Januari 2012

Cewek Anti Belagu (1)

Rizka mempercepat langkahnya. Hatinya gelisah. Dan untuk kesekian kalinya ia melirik jam tangannya, 07.15. Kali ini tanpa basa-basi, ia langsung berlari menyusuri koridor sekolah,
Sesekali ia masih melirik jam tangan merah miliknya. Namun itu hanya membuat hatinya makin gelisah. Dan ketika ingin menaiki tangga... DUBRAK! Entah apa yang membuatnya terjatuh. Rizka langsung mendongakkan kepalanya,
seorang cowok yang cukup tinggi sedang membereskan buku-buku yang jatuh karena peristiwa 'tabrakan' itu. Tentu saja cowok itulah yang tadi telah menabraknya.
Rizka segera berdiri dengan tegap, sambil membersihkan roknya yang mungkin kotor karena terjatuh. Cewek itu nggak bicara apa-apa, ia hanya menatap tajam dan mengatupkan rahangnya pada cowok yang telah menabraknya, lalu langsung ambil langkah seribu. Ia tak peduli pada cowok yang telah menabraknya itu kini sedang memeloti Rizka.

***

Perlahan Rizka membuka pintu kelas XB. Matanya terpejam, kakinya bergetar.
"Masuk saja Rizka." Suara dari dalam membuat Rizka kaget. Dan spontan ia langsung membuka pintu kelas lebar-lebar.
Ia tak membiarkan murid-murid melihatnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Rizka segera melesat masuk dan dalam 2 detik ia sudah berada di samping Bu Guru.
"Maaf Bu, saya sedikit terlambat," Ucapnya pelan. Rizka cengar-cengir. Ia tidak sadar dengan siapa dia berbicara sekarang.
"Sedikit kamu bilang?! Lihat jam berapa sekarang!" Bentak Bu Guru sambil menunjuk jam dinding di belakang kelas.
"Emm.." Rizka menyipitkan matanya, "Jam 7.20 Bu," Jawabnya santai.
Emosi Bu Guru mulai meledak. Dengan sedikit ambil nafas, Bu Guru langsung teriak keras-keras tepat di kuping Rizka.
"KALAU BEGITU SEGERA KAMU DUDUK!" Hardiknya kasar sambil mendelik. Matanya yang belo dan hitam pekat itu terlihat membesar 2 kali lipat.
Rizka sedikit terhuyung ke belakang mendengar bentakan keras seperti itu, pas di kuping lagi.
"Yang sabar dong Bu, saya juga masih punya kuping yang masih berfungsi. Nih juga lagi mau duduk," Kata-kata tersebut keluar otomatis dari mulut Rizka. Ia menjawabnya dengan santai tanpa menatap Bu Guru. Kemudian bergegas melangkah dan duduk di sebelah Eca.
Eca hanya geleng-geleng melihatnya. Sahabat gue emang rada miring otaknya. Ia menggumam dalam hati. Yang kemudian disambut tatapan tajam dari Rizka, seolah tahu apa yang dipikirkan Eca.

(To be Continued...)

0 komentar:

Poskan Komentar

---PERHATIAN---
Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat, boleh di share dimana saja. Tetapi mohon untuk menyertakan link sumbernya. Trimakasih :)