Minggu, 22 Januari 2012

Cewek Anti Belagu (2)

"Lo udah bener-bener nggak waras ya, Riz?" Tanya Eca lalu meneguk Coca-Cola nya. Saat itu ia dan Rizka sedang duduk-duduk di pinggiran kantin.
"Nggak tuh. Gue masih waras," Balas Rizka santai sambil meneguk Tebs miliknya, pandangannya terus ke depan. Kepalanya celingak-celinguk, sepertinya ada sesuatu yang sedang ia cari.
Eca berdecak.
"Masih waras lo bilang? Bentak Bu Guru yang jelas-jelas lagi marah sama lo? Dah gitu gurunya Bu Ambar? Itu yang lo bilang waras? Kayak gitu masih waras?" Tanya Eca keras.
Pertanyaan beruntun dari Eca membuat Rizka sedikit tersinggung. Masih dengan gaya sok cool nya, ia menoleh ke arah Eca dan menatapnya sinis. Eca hanya menaikkan kedua alisnya seolah menantang Rizka.
"Emangnya kenapa? Lo nggak terima, Ca? Lagian gue nggak bentak Bu Ambar kok, cuma njawab pertanyaan dia aja." Jawab Rizka tak kalah keras. Tapi nadanya tetap terlihat santai, biar cool gitu.
"Tapi lo itu-"
"Aah, udah! Target gue udah ketemu! Gue duluan ya, Ca!" Sahut Rizka memotong omongan Eca. Ia membuang plastik Tebs nya dan langsung berlari menuju seorang cowok yang bersandar di dinding, di pojok kantin, dan terlihat asyik mengobrol dengan teman-temannya. Sesekali mereka tertawa.
"Eh, mau kemana? Gue belom selesai ngomong!" Sahut Eca kemudian. Teriakannya cukup membuat beberapa murid yang sedang jajan menoleh padanya. Eca nyengir kuda.
Rizka berhenti mendadak. Berbalik, lalu berteriak,
"Ntar gue ceritain! Keburu targetnya pergi!"
Target? Pertanyaan yang cukup membuat Eca bingung. Jangan-jangan si Rizka udah punya gebetan lagi? Atau temen baru? Trus ntar gue ditinggalin dong? Tidaaak! Eca berpikir keras. Ia berusaha menghindari hal-hal negatif yang melesat begitu saja di otaknya. Matanya terus mengarah ke Rizka yang kini semakin jauh meninggalkannya.
Oh, biasa. Sahabat gue emang rada GJ. Gak Jelas.
Bisiknya pelan, lalu berlalu.
***

"Hey! Masih inget gue kan?" Sahut Rizka kepada cowok di depannya. Cowok itu kebingungan. Ia menatap ke arah teman-temannya, kemudian mengisyaratkan dengan tangannya agar mereka pergi.
"Gebetan baru ya, bro? Ntar cerita ya!" Salah satu temannya menepuk pundak cowok tersebut, lalu mengedipkan sebelah mata lentiknya. Rizka langsung mendelik ke arahnya. Cowok tadi hanya menahan tawa lalu pergi bersama teman-temannya yang lain.
Setelah mereka cukup jauh, Rizka kembali menatap tajam ke arah cowok di depannya. Ia menunggu jawaban, kedua tangannya dilipat di depan dada.
Cowok itu hanya tersenyum. Entah senyuman apa.
"Tentu aja gue inget. Lo kan adik kelas belagu yang tadi pagi nabrak gue di tangga," Jawab cowok itu santai. Ia balas menatap cewek di depannya.
Rizka kaget, kedua rahangnya terkatup.
"Heh! Gue nggak kenal elo, dan elo nggak kenal gue! Jadi nggak usah sok pake ngatain gue belagu deh!" Teriak Rizka keras-keras. Jelas aja dia nggak terima dikatain 'belagu'. Rizka membuang muka, mulutnya manyun.
"Emang kenapa? Lo nabrak gue tadi pagi itu udah cukup bikin gue tau dan kenal sama lo, juga sifat lo yang belagu..." Jawab cowok itu sinis. Ia sengaja menggantungkan kata-katanya.
Rizka mendelik.
Cowok itu tersenyum lagi, kemudian melanjutkan, "Asal lo tau aja ya. Gara-gara lo nabrak gue tadi pagi, laporan-laporan gue rusak semua! Gue dimarahin habis-habisan tau sama guru!" Hardik cowok itu. Ia berharap dengan berkata demikian cewek ini akan merasa bersalah.
"Hahahah. Dimarahin? Trus? Apa urusan gue? Itu salah lo sendiri, nggak bisa njaga laporan-laporan lo itu. Halah, paling juga laporannya nggak-pen-ting!" Rizka mengeja kata "nggak penting"-nya supaya terdengar lebih jleb. Bener-bener nggak sesuai harapan si cowok, Rizka justru semakin menyudutkannya.
"Apa lo bilang?! Heh, sadaran dikit dong! Lo itu cuma ADIK KELAS BELAGU! Dan lo bisa sopanan dikit nggak, hah?" Bentak cowok itu kasar. Kesabarannya udah dipuncak.
Rizka tak menjawab. Lidahnya terasa kelu. Rasanya pengen banget dibalasnya cowok ini, tapi entah kenapa, mulutnya udah kayak kekunci. Tan ba-bi-bu lagi, Rizka segera membalikkan badan, lalu berlari sekencang mungkin. Samar-samar terdengar bel tanda istirahat habis.
Sembari menatap kepergian sang cewek yang aneh dan tiba-tiba, sebuah senyuman tersungging di bibir cowok itu. Ya, senyuman kemenangan.

(To be Continued...)

0 komentar:

Poskan Komentar

---PERHATIAN---
Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat, boleh di share dimana saja. Tetapi mohon untuk menyertakan link sumbernya. Trimakasih :)