Sabtu, 03 Maret 2012

Cewek Anti Belagu (3)

Eca sangat heran. Sejak sehabis istirahat sampai sekarang-sepulang sekolah-Rizka tak berbicara sepatah kata pun. Eca sudah memberanikan diri bertanya, namun jawaban Rizka adalah "Sori, gue lagi pusing." Setelah mendapat jawaban itu, Eca juga sudah memberanikan diri menawarkan sohibnya ini ke UKS. Namun sungguh, tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Rizka.

Dan sekarang, Eca sedang berjalan bersama Rizka di sampingnya.
"Eh, Riz, ini kan hari Sabtu. Jadi ntar, gue yang ke rumah lo, atau lo yang ke rumah gue?" Tanya Eca lembut. Ia berharap Rizka akan memberi jawaban.
Rizka menghentikan langkahnya dengan gontai, lalu perlahan menoleh pada Eca yang kini 100% sedang menunggu jawabannya. Ia menghela nafas.
"Huh, terserah lo aja, Ca." Jawaban yang benar-benar tak diharapkan oleh Eca. Ia hanya pasrah. Entah apa pikiran yang menyelimuti otak Rizka hingga berubah 180 derajat. Eca menggeleng.
"Oh, yaudah. Gimana kalo ntar gue yang ke rumah lo aja? Lagian gue kangen sama rumah lo, sama kasur lo yang empuk dengan sprei doraemon lo itu, sama koleksi ikan yang ada di akuariom lo itu. Ah pokoknya banyak deh! Eh apalagi sama keluarga lo yang baaaik banget itu, kangen banget gue! Tapi sama anaknya sih enggak. Haha bercanda." Eca ngos-ngosan hebat karena orasi yang panjang lebar itu. Ia berusaha mengatur nafasnya. Dengan mencoba bersikap se-cool mungkin dan sedikit ambil nafas, ia berkata lagi, "Jadi gimana Riz, setuju?"
Rizka heran. Ia mengernyitkan matanya kepada cewek disampingnya ini. Lalu ia mengangguk kaku, dan sejurus kemudian, kembali menunduk. Eca tersenyum, walaupun Rizka tak berbicara lagi padanya.
Saat ini Rizka dan Eca sedang duduk di bangku panjang dekat tempat parkir sekolah. Mereka pun saling diam seribu bahasa. Terkadang Eca menoleh pada Rizka, dan hasil tatapannya selalu sama: Rizka, dengan muka terlipat dan mulut yang tak berhenti manyun, sedang memainkan ujung tas selempangnya. Eca tak bisa berkomentar apa-apa, memang beginilah Rizka jika sedang banyak pikiran.
"Eh Riz, tuh mobil gue udah dateng. Yuk, pulang!" Sahut Eca ramah, lalu berdiri dan mengulurkan tangannya untuk Rizka. Rizka tetap menunduk. "Riz?" Panggil Eca pelan sembari mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Rizka.
"Eh, oh, maaf Ca. Eh, kayaknya gue pulang sendiri aja deh. Lo duluan aja," Jawab Rizka pelan.
"Hah? Pulang sendiri? Yakin? Lo kan lagi sakit? Eh, maksud gue, lo mau pulang jalan kaki gitu?" Tanya Eca kebingungan. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang nggak gatal.
Rizka menaikkan alisnya.
"Iya, gue pulang jalan kaki. Udah kan? Yaudah, lo pulang duluan aja. Te-"
"Nggak bisa gitu dong, Riz! Gue ini sahabat lo. Siapa sih orang yang ngebiarin sahabatnya yang lagi sakit pulang sendiri, jalan kaki lagi! Nggak bakalan ada!" Eca memotong omongan Rizka.
"Gue nggak peduli ada atau nggak. Kalaupun nggak ada, lo bakal jadi orang pertama yang ngelakuin itu."
"Hah? Kok gitu sih? Rizka, dengerin gue ya. Lo tau banget kan gue orangnya gimana. Gue nggak tegaan, gue nggak bakal ngelakuin itu apalagi sama sahabat gue sendiri. Udah deh mendingan sekarang elo ce-" Sebuah jari telunjuk menempel di bibir Eca.
"Stop, Ca. Gue baik-baik aja. Oke?"
Eca meragu, mulutnya sedikit terbuka. Rizka langsung tersenyum dan meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.
"Oke deh. Kalo lo maunya gitu, gue nggak bisa maksa. Yaudah, gue duluan ya! Hati-hati di jalan, Bye!" Sahut Eca akhirnya. Ia berlalu sambil melambai-lambaikan tangannya cukup lama.
Rizka berdesis,
Duh, cuma mau pulang sendiri aja, lambaian tangannya lama banget, kayak mau pisah selamanya.
Eca pun membuka pintu mobil Jazz berwarna merahnya, masuk ke dalam mobilnya, membuka kaca mobil, lalu kembali melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. Cape deh!
Mobil Eca melaju, Rizka tersenyum. Senyuman yang dipaksakan.


(To Be Continued...)

0 komentar:

Poskan Komentar

---PERHATIAN---
Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat, boleh di share dimana saja. Tetapi mohon untuk menyertakan link sumbernya. Trimakasih :)