Selasa, 27 Maret 2012

Secret Admirer

Dia.
Pandangan matanya.
Memang indah. Begitu indah.
Entah apa yang membuatku selalu berfikir begitu, setiap kali aku melihatnya.
Sosok itu.

Sosok yang misterius. Dan aku tidak terlalu sering melihatnya.
Ia berbeda. Seolah menyimpan suatu rahasia di dalamnya. Dan aku tak tahu, entah aura apa yang membuatku tertarik untuk mencari tahu, tentangnya.

***

Hai. Namaku Ica. Nama yang biasa, aku tau. Sesuai dengan kehidupanku yang biasa saja, sangat biasa. Aku kelas 10. Belum lama, baru 2 bulan. Aku suka musik, dan novel. Apa saja. Aku berangkat sekolah menggunakan sepeda. Yah, beginilah hidupku, kawan. Sekali lagi, biasa saja.

"Hei, Ca!" Seseorang menyenggol bahuku. Membuyarkan lamunanku. "Idiih ngelamun, ntar nabrak loh!" Lanjutnya.
"Eh, enggak kok. Hai juga, Fa."

Ya, dia adalah Ifa. Banyak yang mengatakan bahwa kami seperti anak kembar. Karena selain nama kami mirip, wajah dan perawakan kami pun juga mirip. Ditambah lagi kami bersahabat, sehingga kami sering pergi bersama. Tapi bagiku, kami tidak mirip, bahkan sama sekali tidak mirip. Dan salah satu alasan yang membuatku menolak opini itu, Ifa adalah anak orang kaya.

"Haha terserah deh." Ifa tertawa renyah. Menambah kecantikan yang ada di wajahnya. "Oiya, udah ngerjain PR Fisika belum?" Tanyanya kemudian.
"Udah kok." Jawabku singkat.
"Ntar nyontek ya?" Ifa memohon dan tersenyum penuh harap.
Aku hanya tersenyum melihatnya. Lalu mengangguk.

Aku tidak mendengar Ifa berkata lagi selain kalimat "yes" setelah mendengar jawabanku tadi. Dan aku pun berjalan tanpa menghiraukannya. Sampai ketika aku tiba di kelas dan menaruk tas, barulah aku tersadar, bahwa Ifa tak ada di sampingku.

"Ica!"
Aku menoleh ke asal suara itu. Dari pintu kelas. Dan disana berdiri belasan orang yang sedang menatap tajam ke arahku. 4 orang diantara mereka segera menghambur ke arahku yang sedang kebingungan.
"Tega banget lo, Ca!" Desy mendorong bahuku cukup keras, dan menatapku sinis. Dia menangis. Aku masih kebingungan.
"Iya, jahat lo!" Seseorang menunjuk tepat di depan mukaku.
"Busuk! Gue nggak nyangka ternyata orang dengan muka polos kayak lo bisa ngelakuin hal itu!" Seorang lagi membentak ku.
"Kalian tuh kenap-"
"Alaah diem lo! Nggak usah munafik!" Seorang yang lainnya membentak ku, dan memberikan satu tamparan panas di pipi kananku.

Aku tersungkur. Sambil menahan sakit di pipiku, aku mendekat dan berteriak di depan mereka,

"Apa-apaan sih kalian! Sakit, tau!"
"Sakit lo bilang?! Sekali lagi lo bilang kayak gitu, gue tampar pipi lo yang satunya! Itu nggak ada apa-apanya dibanding apa yang udah lo lakuin ke Ifa!" Teriak salah satu dari mereka lebih keras.

Ifa? Kenapa mereka nyebut nama Ifa? Ada apa dengan Ifa? Dan... Aku? Kenapa aku? Emang aku udah ngapain Ifa?

Beribu pertanyaan muncul di otakku. Dan belum lama setelah itu, mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan itu,

"Lo pikir dengan lo nyoba mbunuh Ifa dengan cara kayak gitu, trus lo bakal terkenal gitu? Lo bakal secantik dia? Jadi kaya kayak dia? Konyol tau nggak! Untungnya pisau itu nggak kena, tapi lo tau sendiri kan dia itu punya penyakit jantung! Dia pingsan!"

Aku tersentak. Detak jantungku serasa berhenti. Aku tidak bisa berfikir lagi.

"Udah lah Ca, berhenti pasang muka polos lo itu! Kita semua udah muak ngeliatnya! Gue tau, lo pasti ngelakuin itu karna lo iri kan sama dia? Lo pengen jadi kayak dia, kan? Kenapa sih lo ini? Lo belum puas dengan lo yang kayak gitu? Lo itu udah mirip sama dia! Tapi kalo lo pengen mirip harta juga, nggak gini caranya!"

Kini jantungku benar-benar berhenti. Ini pelecehan. Pelecehan nama baik. Mereka telah merendahkanku di depan banyak orang. Aku pun menatap mata milik orang yang telah berkata kalimat-kalimat "tak tau diri" tadi. Beberapa detik kemudian, aku tidak tau lagi apa yang terjadi.

***

(To Be Continued...)

0 komentar:

Poskan Komentar

---PERHATIAN---
Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat, boleh di share dimana saja. Tetapi mohon untuk menyertakan link sumbernya. Trimakasih :)